Suasana di perkampungan Sinto malam itu terasa mencekam. Angin bertiup kencang, membawa suara-suara aneh dari dalam hutan yang mengelilingi perkampungan Sinto. Di salah satu rumah kayu, Leena menuju pintu dan menatap keluar, seolah-olah dia mendengar sesuatu dari hutan. Leena, yang selalu terlihat tenang dan penuh senyuman, saat ini terlihat kecemasan di wajahnya. Lentera-lentera minyak yang tergantung di tiang-tiang bergoyang karena angin, menciptakan bayangan yang bergerak seperti makhluk hidup.

"Lynx, andai kamu ada disini." Batinnya. Kerinduan terhadap sosok Lynx membuatnya sering melamun dan berharap segera dapat bertemu. Namun dia menyadari, saat ini Lynx tidak ada disini, dan dia harus dapat bertahan dan berjuang meski Lynx tidak disisinya.

“Semuanya tetap di tempat!” teriak seorang penjaga di tepi kamp. Namun, ada nada panik di suaranya.

Leena yang berada di dekat pintu menoleh ke arah seorang wanita tua yang duduk di dekat perapian.

“Jaga rumah ini,” kata Leena dengan suara lembut namun tegas. “Aku akan melihat apa yang terjadi.”

Wanita tua itu mencoba menghentikannya. “Leena, jangan pergi! Hutan sedang tidak aman.”

Leena menggeleng pelan, senyum tipis muncul di bibirnya. “Aku harus memastikan semua baik-baik saja. Aku tidak akan lama.”

Leena melangkah keluar, memegang obor di tangannya. Ketika dia berjalan mendekati batas perkampungan, suara aneh semakin terdengar. Itu seperti raungan hewan, namun dengan nada yang jauh lebih menakutkan, seperti ada sesuatu yang tidak berasal dari dunia ini.

Seorang penjaga mendekatinya. “Leena, kau harus kembali. Kami akan memeriksa ini.”

Leena menggeleng. “Aku hanya ingin memastikan tidak ada yang mendekat. Aku akan tetap di sini, di dekat kalian.”

Namun, sebelum penjaga itu bisa berkata lagi, bayangan besar tiba-tiba muncul dari hutan. Kecepatannya luar biasa, hanya berupa kilatan hitam yang sulit diikuti mata. Dalam sekejap, penjaga itu terlempar ke udara, darah memercik di tanah.

Leena mundur dengan napas tercekat. “Apa itu...?”

Dari kegelapan, makhluk besar muncul. Tubuhnya seperti serigala namun lebih besar, dengan mata merah menyala dan cakar tajam yang bersinar di bawah cahaya lentera.

Penduduk Sinto mulai berteriak, suara-suara panik memenuhi udara. Beberapa pria dengan tombak mencoba melawan, namun makhluk itu terlalu cepat. Dalam hitungan detik, tiga orang lainnya sudah jatuh bersimbah darah.

Leena berlari ke arah perkampungan, mencoba memperingatkan yang lain. “Semua orang, masuk ke rumah kalian! Cepat!”

Namun, sebelum dia bisa melangkah lebih jauh, makhluk itu melompat ke arahnya. Leena hanya sempat berbalik dan menatap mata merah itu sebelum cakar besar menghantam tubuhnya. Dia terjatuh dengan keras, darah mengalir deras dari luka di dadanya.

“Leena!” teriak salah satu penduduk yang melihatnya.

Namun, tidak ada yang bisa mendekat. Makhluk itu berdiri di atas tubuh Leena, mengaum dengan keras sebelum menghilang kembali ke dalam hutan, seolah-olah dia tidak pernah ada.

Penduduk Sinto berlarian dengan panik, sementara beberapa yang selamat berkumpul di tengah kamp. Mayat-mayat berserakan, dan suara tangisan memenuhi udara.

"Lynx..." Kata Leena sebelum menghembuskan napas terakhir.

"Leena!" Teriak Lynx dengan keras.

Lynx terbangun dengan napas memburu, tubuhnya basah oleh keringat dingin. Dia merasakan jantungnya berdegup kencang, seolah-olah baru saja berlari jauh. Tangannya secara refleks mencengkeram sisi tempat tidurnya.

Dia memandang sekeliling, memastikan di mana dia berada. Dia tidak di kamp Sinto, tetapi di perkampungan Yaksa, tempat dia beristirahat setelah perjalanan panjang.

“Leena...” Lynx berbisik, memegang dadanya. Mimpi itu terasa begitu nyata, sampai-sampai dia hampir percaya bahwa Leena benar-benar telah terbunuh.

Jelita, yang sedang duduk tidak jauh darinya, menatap dengan cemas. “Lynx, kau baik-baik saja? Kau terlihat seperti melihat hantu.”

Lynx mengangguk perlahan, mencoba menenangkan dirinya. “Aku... aku hanya bermimpi buruk.”

“Sepertinya buruk sekali, hingga kamu mengigau di mimpimu,” gumam Jelita, memperhatikan ekspresi tegang di wajah Lynx.

"Siapa Leena yang kamu panggil dalam mimpimu?" Tanya Jelita penasaran.

Lynx memalingkan wajahnya, menatap ke arah kegelapan hutan. “Dia orang yang sangat penting bagiku. Aku harus memastikan Leena baik-baik saja. Aku harus segera kembali ke perkampungan suku Sinto. Sesuatu tidak terasa benar.”

Jelita menatapnya dengan bingung, tetapi tidak berani bertanya lebih lanjut. Di dalam hatinya, Lynx merasa ada sesuatu yang akan terjadi—sesuatu yang buruk. Dan dia harus bersiap sebelum semuanya terlambat.

Sementara itu, di sebuah lembah terpencil yang dikelilingi oleh pepohonan raksasa, sekelompok besar prajurit Monrest berkumpul. Mereka mengenakan pakaian perang yang terbuat dari kulit tebal dan tulang, masing-masing membawa senjata yang dihiasi ukiran kuno. Di tengah kelompok itu, berdiri seorang pria dengan tubuh kekar dan wajah penuh bekas luka, menatap tajam ke arah Kronar yang baru tiba. Dialah Davor, salah satu pimpinan prajurit Monrest, sosok yang ditakuti bahkan oleh musuh-musuh mereka yang paling kuat.

Kronar melangkah maju, membawa beberapa anak buahnya yang tersisa dan beberapa tahanan. Wajahnya tegang, tapi ia berusaha menyembunyikan kegugupan di depan Davor. Beberapa prajurit Monrest melangkah maju, menatap Kronar dengan tatapan meremehkan.

“Davor,” Kronar menyapa dengan suara serak, membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda hormat.

Davor menatapnya dengan dingin, lalu melangkah maju dengan aura intimidasi yang jelas terasa. “Kronar. Apa yang terjadi? Kamu berani menentang perintahku? Aku sudah memberimu perintah untuk menangkap orang-orang untuk ritual pengorbanan suku Monrest!”

"Dan sekarang kamu datang sendiri tanpa membawa mereka." Kata Davor dengan marah dan menendang perut Kronar dengan keras.

Kronar yang terlempar, menahan rasa sakit dan datang mendekat. Dia menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberanian. “Kami menghadapi masalah tak terduga. Lynx menyerang perkampungan kami. Dia membebaskan semua tahanan dan menghancurkan persediaan kami. Aku kehilangan banyak anak buah.”

Davor menyipitkan matanya, wajahnya semakin tegang. “Lynx? Kau membiarkan satu orang menghancurkan perkampungan kalian dan membebaskan para tahanan?”

“Kami sudah berhasil menangkapnya,” jawab Kronar dengan suara yang mulai terdengar gugup. “Namun dia sangat beruntung. Seseorang pasti membantu dan melepaskannya, sehingga dia bisa melepaskan tawanan ketika kami sedang pergi. Dia cukup kuat untuk dihadapi para penjaga biasa. Mereka tidak bisa menghentikannya.”

Davor melangkah lebih dekat, memegang kerah Kronar dengan satu tangan, mengangkatnya sedikit dari tanah. “Dengar baik-baik, Kronar. Aku tidak peduli seberapa kuat dia. Kegagalanmu mencoreng nama Monrest. Jika kau tidak segera menebus kesalahan ini, aku sendiri yang akan memenggal kepalamu.”

Kronar terbatuk, berusaha tetap tenang meskipun dadanya terasa sesak. “Aku... aku akan melakukan apa pun untuk menebusnya, Davor.”

Kronar yang takut Davor bertambah marah, segera mengeluarkan senjata milik Lynx dan menyerahkannya kepada Kronar. "Kami memang dikalahkan olehnya, tetapi kami juga berhasil mendapatkan senjatanya."

Davor segera mengambil senjata di tangan Kronar dan memperhatikannya dengan seksama. Dia mengagumi bentuknya yang berkilauan terkena cahaya, bagian ujung pinggir senjata itu terlihat sangat tajam. "Senjata yang luar biasa."

Melihat Davor mengagumi senjata tersebut, Kronar memujinya, "Davor, aku sudah pernah bertarung dengan anak ini. Aku yakin kekuatannya berada di bawahmu. Dia hanya memiliki kecepatan melebihi orang lain. Kekuatannya dia pasti berasal dari senjata ini. Tanpa senjata ini, Kita tidak perlu takut terhadapnya."

Davor hanya diam mendengar perkataan Kronar. Dia bukanlah orang bodoh yang bisa dipengaruhi dengan kata-kata manis, dan dia tidak pernah meremehkan lawan-lawannya. Dia lalu meminta salah satu anak buahnya untuk mendekat, kemudian dia mengibaskan senjatanya ke arah tombak yang di pegang oleh anak buahnya.

Anak buahnya terdiam terkejut, menyaksikan gerakan Davor yang tiba-tiba. Mereka yang ada di tempat itu merasa kagum melihat tombak yang di pegang salah satu anak buah Davor langsung patah menjadi dua bagian dengan bentuk potongan yang rapi dengan mudah.

Davor tertawa bangga dan senang melihat kehebatan senjata barunya, "Dengan ini, aku akan menjadi pimpinan prajurit yang terkuat."

Kronar yang kagum melihat kekuatan senjata tersebut merasa menyesal, namun dia juga tidak punya cara lain untuk menghilangkan kemarahan Davor."Yang penting nyawaku selamat." Batinnya.
